SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI

Senin, 25 September 2017

Mata Pelajaran SD Berdasarkan Struktur Kurikulum 2013


Struktur Kurikulum SD/MI terdiri atas mata pelajaran umum kelompok A dan mata pelajaran umum kelompok B. Mata pelajaran umum kelompok A merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar penguatan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mata pelajaran umum
kelompok B merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial, budaya, dan seni. Khusus untuk MI, dapat ditambah dengan mata pelajaran keagamaan yang diatur oleh Kementerian Agama.
Struktur kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut:

Keterangan:
Mata pelajaran Kelompok A merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.
Mata pelajaran Kelompok B merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.
Mata pelajaran Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri.
Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah.
Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka adalah 35 menit.
Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, maksimal 40% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan.
Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting.
Untuk Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, satuan pendidikan wajib menyelenggarakan minimal 2 aspek dari 4 aspek yang disediakan. Peserta didik mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang diikuti dapat diganti setiap semesternya.
Khusus untuk Madrasah Ibtidaiyah struktur kurikulum dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh Kementerian Agama.
Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas Pendidikan Kepramukaan (wajib), usaha kesehatan sekolah (UKS), palang merah remaja (PMR), dan lainnya sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing satuan pendidikan.
Pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran Tematik-Terpadu kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 27 November 2015

Ada artikel bagus, tulisan Komang Prasada. Yuk, kita simak!

Guru, Mengajar dan Mendidik Sesuai Zaman


Zaman Bapak Saya 
Saya masih ingat cerita almarhum bapak saat menceritakan bagaimana gurunya mengajar di depan kelas. Menurutnya semua guru tidak ada yang tidak menguasai ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya. Sehingga tidak ada murid yang keluar kelas tanpa mengerti apa yang telah diajarkan. Saya juga terkesan dengan cerita beliau bagaimana para murid hormat dan takut kepada guru-guru karena mereka selain mengajar dan mendidik juga mencontohkan hidup yang baik dan benar. Satunya kata dan perbuatan selalu ditekankan oleh para guru dan murid mengikuti panutan mereka karena yakin dengan mengikuti itu hidup mereka akan menjadi lebih baik. Guru dihormati dengan baik, di sekolah juga di lingkungannya. Segala perbuatan guru walaupun keras, tak pernah ada yang berani memprotes karena telah dipercaya bahwa itu adalah demi kebaikan. Guru pada umumnya tidak hidup dalam kemewahan. Mereka rela hidup sederhana, penuh perjuangan dan pengabdian demi mencerdaskan anak bangsa. Saking kagum dan hormatnya bapak pada gurunya, dia lalu berniat menjadi guru untuk menyebarkan ilmu yang akan berkembang dan tak pernah akan berhenti menyebar itu. Sayang karena tak ada biaya bapak gagal melanjutkan cita-citanya dan akhirnya memutuskan jadi tentara.

Zaman Saya Sekolah 
Saya juga masih ingat bagaimana saya bersekolah. Dari mulai SD, SMP dan SMA saya masih mengalami KDSK (Kekerasan Dalam Sekolah Kita) lebay.... Di SD guru saya selalu membawa penggaris panjang saat mengajar dan dia gunakan saat bertanya kepada murid dengan memukulkan ke punggung murid. Pertanyaan dia lontarkan, saat murid tak bisa menjawab dia mulai memukul dengan pelan dan jika tidak bisa juga menjawab makin lama pukulannya makin kencang. Saat pukulan tambah kencang pak guru akan bertanya kepada murid yang lain siapa yang bisa membantu temannya ini. Jika ada yang bisa menjawab maka selamatlah anak yang dipukul karena tidak akan dipukul terus, tetapi jika tidak ada yang menjawab pak guru akan pindah kepada anak lain untuk mengulang pertanyaan dan perbuatannya. Karena penggaris itulah saya selalu belajar lebih keras dan giat agar luput dari pukulan punggung ini. Hasilnya? Saya selalu tiga besar dari mulai kelas 4 hingga lulus SD. Saat masuk SMP lebih seru lagi karena sebagian besar guru saya dari Sumatera Utara dan cara mengajarnya cukup membuat murid jantungan. Guru Fisika mengajar dengan membawa penghapus. Jika dia menerangkan pelajaran dan ada murid yang asyik ngobrol maka dia akan panggil nama murid itu. Setelah murid menoleh dia akan lemparkan penghapus tepat ke kepala. Jika tidak keburu mengelak maka sudah pasti penghapus akan mendarat dengan nyaman di kepala dan menimbulkan rasa nyut-nyut sampai bel berbunyi. Saat SMA, juga tidak luput dari KDSK. Ada guru yang bertanya sambil mendekati murid. Jika tidak bisa maka dia akan mencubit dada dengan cubitan kecil dan akan ditarik ke atas hingga murid akan mengkikuti hingga berdiri. Tidak sedikit korban yang menderita dada biru akibat cubitan ini. Namun karena itu akibat kebodohan murid, maka kami menerima dan akan menjadikan bahan ledekan bagi teman-temannya dengan sebutan cubitan cinta. Dari semua kekerasan yang terjadi, saya belum pernah mendengar ada anak yang tidak terima lalu melapor ke orang tuanya lalu orang tuanya datang ke sekolah marah-marah atau lapor ke polisi. Pada zaman itu semua dianggap wajar dan dikira termasuk dalam bagian meningkatkan kecerdasan murid sehingga orang tua malah senang jika anaknya dihukum oleh guru karena kedepannya murid akan lebih rajin dalam belajar. Pada masa saya sekolah, sebagian besar guru juga menguasai apa yang mereka ajarkan. Jarang ada guru yang mengajar sambil menunduk melihat buku atau catatan yang dia buat malam sebelumnya. Mereka bertutur dengan lancar dan semua pertanyaan murid dijawab dengan baik. Saya tidak tahu apakah mereka memiliki sertifikat mengajar atau menguasai kompetensi mengajar yang diwajibkan, tetapi mereka benar-benar menguasai ilmu yang diajarkan. Kehidupan guru pada masa saya sekolah juga masih sederhana walau ada beberapa yang membawa kendaraan itu karena istrinya bekerja di tempat lain sehingga mampu membeli kendaraan. Tidak ada guru yang berbisnis, mereka fokus dengan mengajar, mungkin paling banyak tiga sekolah.

Zaman Anak Saya 
Pada masa ini saya melihat guru bukan suatu profesi yang begitu dihormati. Baik bagi anak didik maupun bagi guru itu sendiri. Saya berfikir mungkin karena zaman sudah begitu maju dibandingkan dengan zaman saya. Anak-anak melihat guru bukan sebagai sosok kharismatik yang sarat akan ilmu karena mereka berfikir guru mereka masih kalah ilmu dengan Mbah Google. Mereka tinggal buka laptop dan klik sana klik sini dapatlah ilmu yang mereka inginkan. Guru juga bukan dilihat sebagai orang yang harus ditiru teladannnya karena di depan kelas berbicara apa tetapi tingkah lakunya berbuat apa. Tentu saja tidak semua guru seperti ini. Masih banyak guru yang terus berjuang demi mencerdaskan anak didiknya walaupun hidup seadanya. Memang tidak mudah mengajar dan mendidik pada sekarang ini karena semua ilmu tersebar begitu mudah di internet. Jika tidak hati-hati di depan kelas, bisa-bisa anak didik mentertawakan guru karena ilmu yang mereka telah dapat berbeda dengan yang diajarkan dan itu bisa membuat guru tampak tidak berdaya. Apalagi jika ditambah ketidakmampuan guru yang memang bukan dari lulusan guru atau bahkan mengajar mata pelajaran yang bukan bidangnya hanya karena terpaksa mengambil mata pelajaran itu. Saat ini guru harus benar-benar cerdas dalam menguasai ilmu dan menyampaikannya ke anak didik agar selain bisa diterima juga bisa mengesankan mereka sehingga jika guru tidak ada anak didik akan merasa kehilangan, bukan hanya karena ilmunya saja tetapi karena cara mengajar dan mendidiknya yang mengena di hati mereka. Zaman telah berubah, dari mulai zaman guru penguasa ilmu, menjadi zaman guru pembawa ilmu lalu berubah lagi menjadi guru sahabat ilmu (ini hanya bahasa saya saja). Guru yang bertahan haruslah guru yang sudah menentukan jalan takdirnya untuk terus meningkatkan kecerdasan anak didiknya agar mampu lebih bersaing dalam hidup global, sehingga nantinya guru akan selalu bangga jika melihat mantan anak didiknya menjadi orang besar, sukses dan berjalan dalam rel kebenaran. Guru yang memilih jalan nafkahnya haruslah guru yang total dalam pekerjaannya sebagai profesi yang dibanggakannya bukan profesi yang melemahkan wibawanya karena masih disambi dengan pekerjaan lain untuk memenuhi keutuhan dasar hidup sebagai manusia. Untuk itulah warga sekolah termasuk orang tua memikirkan bagaimana para guru yang mengajar putra-putri mereka hidup dengan baik tanpa harus memikirkan apakah esok cicilan motor dapat terbayar atau apakah bisa membayar kontrakan rumah karena jika dengan mengajar saja pendapatan masih tidak cukup menutupi kebutuhan hidup. Selamat Hari Guru, semoga setiap guru memampukan dirinya untuk mendidik juga memenuhi kebutuhan hidupnya dan kita semua mampu menempatkan para guru pada tempat yang baik dengan mengusahakan terbantunya kesejahteraan mereka. Karena dari merekalah para juara diciptakan.

Tulisan aslinya di:
http://www.kompasiana.com/krishna_wibawa/guru-mengajar-dan-mendidik-sesuai-zaman_5656cce4fd22bdd706e81346


Jumat, 08 Mei 2015

Kelola Blog

Tanpa terasa, hampir 6 tahun blog ini dibuat. Sering online sih, tapi jarang memperbarui isi blog. Nah, mulai hari ini (08 Mei 2015) saya mencoba untuk menampilkan apa saja: tulisan, gambar, atau lainnya. Anggap saja blog ini adalah "kotak perkakas" untuk menyimpan berkas-berkas. Siapa tahu berguna, tidak hanya bagi pemilik blog, tetapi juga bagi kawan-kawan atau pembaca yang berkenan mampir membaca, berkomentar atau tidak. 

BELAJAR (LAGI) MENJADI GURU SD

Sekelumit PBM di UPBJJ UT Palembang Pokjar Muara Beliti kabupaten Musi Rawas

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya perkuliahan S1 PGSD masukan Berbagai Disiplin Ilmu (S1 PGSD Masukan BI) Semester 20151 Kelompok Belajar Muara Beliti dimulai. 



Pengelola: Drs. Supteman, M.Pd.


       Pak Suyono, S.Pd., M.Pd. Tutor Pendidikan Matematika 1


Tema-teman sekelas


Teman-teman sekelas Bu Ani (Kerudung Biru)


Tatap Muka Pembelajaran IPS di SD 


Contohnya selalu "membumi" Drs. Harun, M.Pd.


Pak Drs. Jamaludin, M.Si., terima kasih tasnya, Pak!


Tas kedua!


Motivator kami.


"AKU"
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang 'kan merayu


EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA

BAB I
EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA

A.    Latar Belakang  
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru disebutkan bahwa kompetensi pedagogik untuk guru SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MAK, atau bentuk lain yang sederajat, meliputi kemampuan antara lain pemahaman tentang peserta didik secara mendalam, penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi kemampuan merancang pembelajaran, mengimplementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan bahwa penilaian (evaluasi) bertujuan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa, dan untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar perlu dirancang proses pembelajarannya, diimplementasikan menggunakan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran,  menggunakan media yang relevan dengan pembelajaran, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.

B.     Masalah dan Pembatasan Masalah                  
Bertolak dari latar belakang di atas, pokok permasalahan yang akan penulis bahas adalah evaluasi proses dan hasil belajar IPA. Untuk membahas permasalahan tersebut, penulis membatasi pada:
a.       Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Pendidikan di SD
b.      Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
c.       Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD




BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Pendidikan di SD       
Pendidikan memiliki arti yang lebih luas daripada pengajaran (Ki Hajar Dewantara dalam Sapriati, 2014:7.3). Menurut Ki hajar, pendidikan adalah peningkatan kemampuan yang diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga dari apa dan siapa saja (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun. Pada tahun 1935, beliau menyatakan bahwa pendidikan/pengajaran bertujuan mengembangkan cipta, rasa, dan karsa peserta didik. B.S. Bloom pada tahun 1956, menjabarkan tujuan pendidikan seperti itu lebih rinci yang terkenal dengan Taksonomi Tujuan Pendidikan, yaitu:
a.       Ranah kognitif (ranah proses berpikir)
b.      Ranah afektif (ranah sikap hidup)
c.       Ranah psikomotor (ranah keterampilan fisik)
Jika disejajarkan dengan pendapat Ki Hajar, maka taksonomi Bloom disajikan dalam tabel berikut:
Ranah
B.S. Bloom
Ki Hajar Dewantara
Proses Berpikir
Kognitif
Cipta
Sikap Hidup
Afektif
Rasa
Keterampilan Fisik
Psikomotor
Karsa

Penilaian berarti pengukuran keberhasilan seseorang dalam proses maupun keberhasilan pembelajaran. Yang diukur tidak hanya materi yang dikuasai tetapi juga dampak materi itu terhadap jenjang proses berpikir, jenjang pengembangan kepribadian, dan jenjang kemampuan keterampilan.







Jenjang setiap ranah dapat dilukiskan sebagai berikut:
     R. Kognitif (C)
R. Afektif (A)
R. Psikomotor (P)
           C6 Penilaian
       A5 Menjadi PolaHidup
     P5 Gerak Kompleks
         C5 Sintesis
     A4 Mengatur Diri
    P4 Gerak Mekanik
      C4 Analisis
    A3 Menghargai
   P3 Menirukan
    C3 Penerapan
  A2 Menanggapi
  P2 Siap Bertindak
  C2 Pemahaman
A1 Menerima
P1 Persepsi
C1 Ingatan



Guru dalam proses pembelajaran berupaya memahirkan peserta didik melalui latihan. Pada setiap latihan tersebut penilaian mulai berperan. Artinya, untuk menentukan bahwa peserta didik telah mahir “mengingat” diperlukan penilaian, dan seterusnya. Kemahiran di setiap jenjang dapat diukur dengan alat ukur (tes) untuk mengetahui tingkat kemahiran
RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang disusun guru harus tergambar konsep apa yang ingin dikembangkan pada ranah mana dan pada jenjang apa. RPP dipedomani dalam proses belajar mengajar (proses pembelajaran) juga dipedomani dalam evaluasi proses maupun evaluasi hasil pembelajaran.
Hubungan RPP dengan proses dan evaluasi digambarkan sebagai berikut:

                        




Menurut Tyler bagan tersebut di atas disempurnakan karena menurutnya ada hubungan timbal balik antara ketiga aspek tersebut.

                     



Setiap tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah dicapai.  Jika sebaliknya, berarti:
1.      Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan demikian guru harus mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat.
2.      Kemungkinan proses pembelajaran sudah tepat, hasil evaluasi rendah terjadi karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang lebih rendah/prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran harus diulangi dengan berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah.
Proses penyempurnaan hasil evaluasi atau proses peningkatan daya serap disebut EVALUASI PROSES atau EVALUASI FORMATIF. Sebaiknya evaluasi proses dilakukan tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang sama mengemukakan jawaban. Untuk kepentingan tertentu, evaluasi dapat juga dilakukan dengan lisan terutama guru yang telah mengetahui pemetaan kemampuan siswanya. Tingkat penguasaan hasil peserta didik akan lebih akurat jika tes hasil belajar sering dilakukan.  
Pada ulangan harian, Intan dapat menjawab 3 dari 5 pertanyaan tes uraian tetapi pada ulangan harian sebelumnya Intan hanya dapat mengerjakan dua dari lima butir soal yang disediakan.
- Pertanyaan yang diberikan kepada Intan adalah contoh alat ukur untuk mengukur hasil belajar Intan. Alat ukur itu mengacu pada pengertian tes.
- Keberhasilan Intan menjawab benar 3 dari 5 pertanyaan merupakan hasil pengukuran. Penggunaan alat ukur yang menghasilkan angka-angka ini mengacu pada pengertian pengukuran.
- Membandingkan hasil ulangan harian pertama dan kedua, mengacu pada pengertian assesmen. 
- Pernyataan tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan mengacu pada pengertian evaluasi.

Tes merupakan alat ukur untuk memperoleh nformasi hasil belajar siswa yang memerlukan jawaban benar atau salah. Yang termasuk kelompok tes adalah tes objektif dan tes uraian. Yang termasuk kelompok bukan tes (nontes) antara lain pedoman pengamatan, skala rating,s kala sikap, dan pedoman wawancara. 
Pengukuran adalah kegiatan penentuan angka dari suatu objek yang diukur. Penentuan angka ini merupakan suatu upaya penggambaran karakteristik suatu objek.
Assesmen adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswayang diperoleh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. Tagihan yang digunakan dalam assesmen antara lain: kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan akhir semester, laporan kerja, dan lain-lain. 
Evaluasi merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (assesmen) serta pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, manajemen pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Evaluasi bertujuan untuk meingkatkan kualitas, kinerja, atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya. 



Prinsip-prinsip Penilaian 
a. Berorientasi pada pencapaian kompetensi
b. Valid artinya mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk itu diperlukan alat ukur yang menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliabel. 
c. Adil artinya adil bagi seluruh siswa. Setiap siswa memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama
d. Objektif artinya tidak boleh terpengaruhi unsur subjektivitas penilai agar pelaksnaan, penskoran, dan pengambilan keputusan tidak merugikan siswa.
e. Berkesinambungan artinya terencana, bertahap, teratur, terus-menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh informasi hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. 
f. Menyeluruh, berarti penilaian yang dilakukan mampu menilai keseluruhan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. 
g. Terbuka, kriteria penilaian terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan hasil belajar siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. 
Bermakna, hasil penilaian bermakna bagi siswadan pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian dapat memberikan gambaran mengenaitingkt pencapaian hasil belajar siswa, keunggulan dan kelemahan siswa, minat,serta otensi siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.


B.            Evaluasi Proses Belajar IPA di SD   
1.             Tujuan Mata Pelajaran IPA di SD
Dalam KTSP, tujuan tercantum tujuan mata pelajaran IPA di SD:
1.      Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
2.      Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitarnya.
3.      Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar.
4.      Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka kritis, mawas diri, bertangung jawab, bekerja sama, dan mandiri.
5.      Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan masalh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
7.      Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga mempunyai kesadaran dan kegunaan terhadap Tuhan yang maha Esa.
Dikaitkan dengan tujuan pendidikan menurut taksonomi Bloom, nomor 1, 5, dan 6 termasuk ranag kognitif,  nomor 3, 4, 7 termasuk ranah afektif,  dan tujuan nomor 2 dan 6 termasuk ranah psikomotor.

2.             Pengertian Evaluasi Proses Belajar IPA
Evaluasi proses bermaksud untuk mendapatkan informasi sejauh mana kegiatan pebelajaran membawa pengaruh pada peserta didik. Hasil evaluasi proses yang kurang memuaskan berarti terdapat kekurangsempurnaan dalam pebelajaran dan harus diperbaiki segera sehingga hasil evaluasi setelah perbaikan proses menjadi sempurna atau lebih baik daripada hasil evaluasi proses yang pertama.            

3.             Alat Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Alat evaluasi proses pembelajaran IPA yang dperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani, dan alat untuk mengukur kemampuan keterampilan.
a.       Alat evaluasi untuk mengukur kognitif
Alat evaluasi untuk mengukur kognitif berupa tes sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tes dapat berbentuk objektif atau uraian (esai). Teknik pemberian tes secara tertulis dapat dengan pertanyaan objektif yaitu melengkapi pilihan. Teknik lainnya dengan menyampaikan pertanyaan secara lisan.
b.      Alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani
Penilaian afektif meliputi lima jenjang:
       A5 Menjadi PolaHidup
     A4 Mengatur Diri
    A3 Menghargai
  A2 Menanggapi
A1 Menerima

Lebih mudah melatih anak didik untuk menghapal, memahami, menerapkan hukum, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya kognitif daripada melatih anak didik supaya berdisiplin, menghargai pendapat orang lain, tenggang rasa, tepat waktu, mau bekerja sama, dan sebagainya. Latihan ranah afektif dilakukan terus-menerus selama proses pembelajaran agar meningkat menjadi jenjang A5 atau mejadi pola hidup. Contoh yang dilatih adalah disiplin. Guru mengamati dan mengobservasi apakah siswa tepat waktu dalam hal:
  1. Datang di kelas/sekolah
  2. Membayar uang sekolah
  3. Mengikuti upacara benderaMengerjakan pekerjaan rumah
  4. Mengerjakan tugas praktikum
  5. Mengerjakan kebun sekolah
  6. Mengerjakan shalat tepat waktu
  7. Menepati janji
  8. Mengembalikan pinjaman pada waktu yang dijanjikan.

Alat yang digunakan untuk menentukan adanya perubahan selama pelatihan adalah melalui observasi

c.       Alat evaluasi yang akan mengukur keterampilan
Jenis keterampilan yang harus dikembangkan dalam IPA
1)      Keterampilan menggunakan tangan
-          Cara memegang gelas beker, seperti memegang gelas biasa namun harus terampil menuangkan isi yang harus dipindahkan ke tempat lain melalui “bibir” gelas yang sudah didesain untuk itu.
-           Cara memegang termometer, menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, tempat memegangnya di tengah termometer. Juga dilatih bagaimana mengukur menggunakan termometer. Hal ini perlu dilakukan terus-menerus dan perlu bimbingan.

2)      Keterampilan menggunakan indera penglihat
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan yang sering dilakukan dalam proses pembelajaran IPA. Percobaan mengukur suhu air yang baru saja dipanaskan menggunakan termometer, si pembaca harus meletakkan matanya sama tinggi dengan permukaan air raksa termometer agar tidak keliru membaca skala.

3)      Keterampilan menggunakan indera pengecap
Yang dilatihkan di SD adalah mengecap rasa manis, pahit, dan asam pada bagian tertentu dari lidah.

4)      Keterampilan menggunakan indera pencium
Merasakan bau dalam proses pendidikan IPA di SD lebih banyak dilatihkan daripada mengecap rasa. Contoh: a) mengenali bau cuka di dapur, b) bau tape dibandingkan dengan bau cuka, c) mengenal bau belerang, d) bau gas pada tukang las karbit, e) bau di tempat pembuangan sampah,dan sebagainya.                      
4.             Cara Menyusun Alat Evaluasi Proses Pembelajaran IPA 
a.       Ranah Kognitif
Untuk mengetahui kemampuan kognitif guru dapat bertanya secara lisan maupun dalam bentuk tertulis misalya dengan menggunakan tes objektifmisalnya pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban.
Contoh soal:
Gas yang paling banyak volumenya di udara adalah ....
A.    Hidrogen
B.     Helium
C.     Oksigen
D.    Nitrogen

Butir soal di atas masih mengukur C1.
Untuk mengukur kemampuan C2 (memahami) guru dapat membuat pertanyaan :
-          Jelaskan mengapa perbandingan volume oksigen dengan volume nitrogen di udara selalu tetap, walaupun udara tersebut diambil dari tempat A maupun dari tempat B!

Jika diubah dalam bentuk objektif:
Perbandingan volume oksigen dan volum nitrogen di udara yang diambil dari berbagai tempat akan selalu sama karena ....
A.    Udara merupakan campuran dari berbagai jenis gas
B.     Adanya angin yang selalu bergerak, campuran dalam gas dalam udara menjadi homogen
C.     Proses fotosintesis menyebabkan volume oksigen di udara menjadi tetap
D.    Bernapas artinya mengambil oksigen dari udara, sedangkan fotosintesismengeluarkan oksigen ke udara
b.      Ranah Psikomotor
Percobaan menentukan volume oksigen di udara mengembangkan keterampilan: menelungkupkan gelas pada lilin yang sedang terbakar dan terapung di atas air dan keterampilan lain. Guru mengamati menggunakan lembar observasi misalnya sebagai berikut:

Lembar Observasi
Menentukan Volume Oksigen di Udara

No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn (beri tanda check)
Baik
Sekali
Baik
Kurang
Baik
Sangat
kurang baik
1
Memilih alat dan bahan yang sesuai




2
Cara menyalakan lilin




3
Cara meletakkan batang penyangga




4
Cara menuangkan air di bejana




5
Cara menelungkupkan gelas kosong di atas lilin




6
Cara memberi tanda permukaan air sebelum percobaan




7
Cara memberi tanda permukaan air sesudah percobaan




8
Membersihkan alat yang sudah digunakan




9
Menyimpan alat dan bahan yang sudah digunakan





c.       Ranah Afektif
Adanya kerja kelompok dalam percobaan telah membuahkan sifat tenggang rasa yang makin tinggi dapat dicatat melalui pengamatan.
Indikator tenggang rasa misalnya:
a.       Tidak memaksakan kehendak sendiri
b.      Mau menerima pendapat orag lain
c.       Tidak mudah tersinggung
d.      Kesediaan menjalin persahabatan tanpa pamrih
Contoh Format Observasi:
Format Observasi: Kualitas Kepribadian

No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn (beri tanda check)
Baik
Sekali
Baik
Kurang
Baik
Sangat
kurang baik

1
2
3
4

Tenggang rasa/toleransi
Tidak memaksakan kehendak sendiri
Mau menerima pendapat orang lain
Tidak mudah tersinggung
Bersedia menjalin persahabatan tanpa pamrih






C.           Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD        
Untuk dapat mengkur kemampuan berpikir (kognitif, C), kemampuan keterampilan (psikomotor, P), dan kualitas kepribadian (afektif, A) diperlukan alat ukur (tes) yang dapat dipercaya, yaitu alat tes yang memiliki: a) validitas (ketepatan, kesahihan) yang tinggi, b) keseimbangan kesesuaian materi yang dipelajari, c) adaya pembeda yang minimal cukup, d) objektivitasnya tinggi, dan e) reliabilitas (ketetapan) yang tinggi.
1.             Tes Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah Kognitif    
Tes hasil belajar yang baik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Penulisan konstruksi soal melengkapi kalimat, di akhir kalimat diberi empat titik.
b.      Pilihan aternatif pada butir soal objektif berebntuk pilihan ganda hendaknya homogen.
c.       Setiap butir soal tidak tergantung dengan soal lain, artinya setiap butir soal mengukur konsep yang beridiri sendiri
d.      Memperhatikan efisiensi kalimat, jangan mengunakan kata yang sama pada pilihan jawaban.
e.       Mempertimbangkan situasi dan kondisi untk memilih cara pelaksanaan secara lisan atau tertulis, namun sebagiknya dilaksanakan tertulis jika butir yang ditanyakan cukup banyak.

2.             Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah Psikomotor      
Keterampilan peserta didik menggunakan dan merancang alat-alat IPA hanya diperoleh dari guru IPA. Hasil belajar keterampilan melalui IPAdapat diketahui melalui observasi cara merancang dan melaksanakan kegiatan. Alat ujinya adalah pedoman observasi. Kualitas keterampilan berupa pernyataan baik sekali, baik, kurang baik, dan kuang kualitas keterampilannya, diubah menjadi angka 1, 2, 3, dan 4. Skor tertinggi adalah banyaknya butir jenis keterampilan/indiator dikalikan 4.
Contoh sebagai berikut:
Lembar Observasi
Jenis Kegiatan: Memindahan cairan dari satu bejana ke bejana

No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn
(beri tanda check)
Baik
Sekali
(4)
Baik
(3)
Kurang
Baik
(2)
Sangat
kurang baik
(1)
1
Cara memegang kedua bejana




2
Ketelitian menuangkan




3
Kecepatan mengerjakan tugas




4
Hasil akhir





Nilai Keterampilan IPA sebagai berikut:
NA =  x 100
Nlai Akhir IPA (Teori dan Praktek)
a.       Bobot Praktek Sama dengan Bobot Teori
NA =
b.      Bobot Praktek berbanding teori 1 : 3
NA = (¼ x Nilai Praktek) + (¾ xNilai Teori)

3.             Nilai Hasil Pembelajaran IPA di SD Ranah Afektif           
Upaya peningkatan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua guru. Jika dilakukan dengan cara observasi dapat memakan waktu lama.menyiasati hal itu, digunakanlah angket dalam bentuk “Skala Likert” yakni skala sikap berupa pernyataan posiitf maupun negatif terhadap suatu hal dan siswa dminta pendpatnya: setuju sekali, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Penyekoran pada skala sikap, jika pernyataan setuju, pilihan jawaban setuju sekali, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju diberi skor 4,3,2,1. Jika pernyataan negatif skor dibalikkan menjadi 1,2,3,4. Pada waktu merakit naskah selalu diupayakan pernyataan yang positif diselang-seling dengan pernyataan negatif.
Contoh skala sikap:
Sikap yang diukur misalnya “tenggan rasa”
Pernyataan
Pilihan Jawaban
Sangat
Setuju
Setuju
Tidak
Setuju
Sangat
Tidak
Setuju
Saya lebih senang berteman dengan siswa yang pandai

Perkawinan antarsuku perlu digalakkan





Pangukuran hasil pembinaan peningkatan kualitas kepribadian ini dilakukan satu kali dalam satu periode.
BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan             
Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Pengukuran berarti pengukuran keberhasilan seseorang dalam proses maupun keberhasilan pembelajaran  yang mengukur penguasaan materi dan dampaknya terhadap jenjang proses berpikir, jenjang pengembangan kepribadian, dan jenjang keterampilan menggunakan alat ukur berupa tes.
2.      Evaluasi proses adalah pelaksanaan pengukuran yang bertujuan untu mengetahui apakah tujuan pmbelajaran telah tercapai. Evaluasi proses sebaiknya dilakukan secara tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang sama mengemukakan pendapatnya. Hasilnya akan akurat jika dilakukan lebih sering.
3.      Penilaian proses pembelajaran IPAdibagi atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian proses yang sifatnya kognitif dilaksanakan dengan lisan atau tertulis dalam bentuk pertanyaan objektif atau esai objektif. Penilaian proses yang sifatnya psikomotor dan afektif dilakukan dengan observasi dan dugunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk menentukan nilai peserta didik.
4.      Penilaian hasil pembelajaran IPA yang berkenaan dengan kognitif menggunakan tes berbentuk objektif atau tes bentuk uraian. Pengembangan keterampilan di laboratorium adalah kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari penilaian kognitif dan menjadi tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya, teknik mengukurnya dengan observasi.
5.      Pengebangan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua pihak di sekolah, dilakukan dengan observasi atau dengan angket berupa “Skala Likert” yaitu skala sikap dengan pilihan jawaban: sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Penyekoran pernyataan positif pada pilihan jawaban sangat setuju,  setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju adalah 4, 3, 2, 1, sebaliknya penyataan negatif dibalik menjadi 1, 2, 3, 4. Pengukuran hasil pembinaan peningkatan kualitas kepribadian dinilai satu kali dalam satu periode, akhr semester dan akhir tahun.

B.     Saran       
Dari kesimpulan di atas, penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1.      Guru perlu mengembangkan alat evaluasi proses pembelajaran  pada ketiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor. Jika hasil yang diperoleh belum sesuai denganstandar yang ditetapkan, guru melakukan upaya perbaikan pmbelajaran.
2.      Guru perlu mengembangkan alat evaluasi hasil pembelajaran agar alat ukurnya valid, reliabel, memiliki tingkat kesukaran yang proporsional, efisien, dan lingkup materinya sesuai dengan yang diajarkan.